Index Labels

Bicaraku Lewat Bisu

Posted by Ucu Supriadi
Oleh: Azalea Senja
Tentang hati, siapalah Selia hingga bisa terbebas, benar-benar lepas dari denyut-denyut mendebarkan. Jalan hidup yang ia pilih sekarang, untuk beranjak mencari penerangan, tak berarti fitrahnya sebagai manusia hilang. Ia tentu saja masih normal layaknya gadis lain yang bisa memiliki perasaan suka dan kagum terhadap golongan dari manusia yang pertama kali diciptakan. Selia, sekali lagi dengan segala usahanya untuk tunduk patuh sepenuhnya pada raja seluruh alam, tetaplah seorang gadis yang sewaktu-waktu bisa terserang racun merah-muda.
Angin tengah bersemilir, membelai lembut wajahnya yang tersembunyi. Pun mentari keemasan di sore hari ikut membelai lembut dengan jamahan hangatnya. Selain irama rinai air langit, Selia begitu merasa dimanjakan dengan lukisan alam penjemput jingga, bahkan terkadang merah saga. Itulah mengapa ia ingin seperti senja, dirindukan karena keindahannya. Anak kecil tengah bermain kejar-kejaran di hadapannya. Sayup-sayup suara mereka memancing ingatan Selia akan masa kecilnya dan masa kemarin yang baru saja hangat terjadi.
=====
"Selia, kamu suka sama siapa? Aku suka sama Ozor, dia islami banget menurutku," suara seorang gadis bernama Berlian itu menggema dalam ingatannya.
"Ozor? Yah, kalau menurutku dia jutek. Ah, kalau aku sih suka sama Shagy. Dia lucu dan cakep," balas Saliah kecil yang saat itu masih duduk di tingkat lima putih-merah. "Duh, Berlian kok sukanya sama Ozor, gak banget deh. Orang sombong gitu. Lian... Lian. Ada-ada ajah." Dalam hati, Selia menertawakan Berlian, heran mengapa Ozor yang harus dikagumi Berlian.
Polos. Mereka masih sangat polos, belum mengenal apa itu cinta hakiki, belum paham bagaimana semestinya bermain peran dalam laganya. Selia hanya bisa tersenyum mengingat-ingat masa kecilnya. Sebatas kekaguman semu dengan beralasankan wajah lucu, tentu saja sosok Shagy telah lenyap begitu saja dari peredaran memori Selia. Lagipula Selia sudah paham bagaimana kriteria yang pantas dijadikan sebenar-benarnya imam, bukan yang asal tampan dan mapan, melainkan faktor agama harus dinomorsatukan.
Enam tahun telah berlalu setelah ia meninggalkan jenjang pendidikan kedua selepas taman kanak-kanak. Hanya tersisa beberapa saja kawan kecilnya semasa itu yang masih bisa dihubungi, selebihnya tak tahu ke mana. Seperti sebuah pelabuhan transit ada yang datang dan pergi, begitupun kehidupan ini. Ada yang di awal datang lalu pergi perlahan, ada pula yang pergi lalu datang entah untuk pertama atau pun kesekian kalinya. Ya, datang-pergi kemudian datang lagi namun harus dibiarkan pergi lagi.
Ozor, siapalah golongan adam yang satu ini? Hanya lelaki yang menurut Selia dianggap jutek, biasa saja, tak ada keistimewaannya sama sekali bahkan terkesan sombong karena kejutekannya. Namun roda tetaplah roda, ia berputar saat digerakkan. Ada kalanya kemarin begini dan sekarang begitu. Terlepas dari kekurangan Ozor yang Selia tahu dengan sendirinya, Selia merasakan racun merah-muda telah tersuntik ke dalam tubuhnya lantas menjangkau areal rawan yang dinamakan hati, tempat kendalinya perasaan yang hadir.
Ozor yang tanpa disangka mengutarakan perasaannya pada Selia. Entah sungguhan atau gurauan, Selia mengakui kekaguman dirinya. Ozor datang membawa segenap perubahan yang sangat melejit. Tanpa sengaja, kriteria yang ia impikan ada pada Ozor. Ozor dengan sekian kekurangnnya menjadi bermakna. Penilaian buruknya tentang Ozor beberapa tahun yang lalu seakan hilang, lenyap ditelan kekaguman akan sosok Ozor masa kini. Tanpa sadar Selia mulai terbuai perangkap yang dipersiapkan iblis hingga Ozor bisa membaca perasaan yang sama dari Selia. Tertangkap basahlah Selia yang diam-diam menyukai Ozor juga hanya karena kelalaiannya dalam bersikap. Saat itu, Selia mulai merasakan ada yang aneh dalam hatinya, gelisah tak karuan.
Suatu malam, Selia tersedot kembali ku dunia nyata setelah mengunjungi alam mimpi. Ia lantas duduk dan bergetar ketakutan. Ozor kembali datang ke dalam bunga tidurnya untuk kali kesekian. Di luar masih sangat gelap, rembulan masih memeluk hamparan langit, bahkan kokokan ayam jantan belum terdengar. Hanya ada detak jam dinding di ruang tamu yang nyaring tik-tokannya tertangkap daun telinga. Rembulan buakn terasa romantis melainkan terasa horor dan menegangkan.
"Kenapa harus didatangi sosok Ozor lagi?" tanyanya dalam hati dengan tubuh yang dipenuhi keringat dingin.
Nasihat-nasihat agama yang pernah ia dengar, seakan menggema di ruangan kecil yang menjadi kamarnya. "Zina! Zina! Zina!" kata-kata ini seperti terpantul dari setiap sisi dari dinding kamarnya. Selia semakin bergetar, ketakutan dan napasnya tersengal.
"Zina itu bukan hanya lewat kemaluan seperti yang orang-orang artikan. Ada juga zina mata, telinga, kaki, tangan, dan hati. Ya, HATI!"
Nasihat guru mengajinya menambah kekalutan malam itu. "Hati! Hati! Hati!" lagi-lagi dinding itu bagai berbicara padanya. Selia semakin merasa ketakutan dan ingin rasanya berteriak. Namun kedua bibirnya hanya mampu terkatup rapat. Hanya tangisan yang menggantikan. Selia menangkupkan telapak tangan di wajahnya, ia mulai terisak. Diintipnya celah dari jemari yang tak rapat, ia melihat sajadah merah masih terbentang bekas salat isya semalam.
Bagai melambai-lambai dengan lembut sajadah itu berkata, "Mari, Selia! Aku antarkan kau mengadu pada Rabb. Ciumkanlah keningmu di sini, duduklah di atasku dan menangislah sepuasnya di pangkuanku. Mari, Selia! Bergegas ambil air wudumu!"
Jadilah ia malam itu menangis mengadu. Kegelisahan yang ia rasakan adalah buah kelalaiannya. Selia semakin sadar diri betapa hebatnya wanita untuk menimbulkan fitnah. Bermuhasabah, baiknya Ozor dibiarkan pergi setelah memang kepergiannya kembali untuk keperluan lain.
***
Tengah asyik berselancar di sosial media, ia sadari bahwa Ozor kembali lagi untuk kesekian kalinya. Sebelum kepergian Ozor, Selia meninggalkan pesan untuknya agar tak menghubungi Selia kembali. Semua itu semata untuk menjaga dirinya pun Ozor. Ozor merasakan Selia menjauhinya. Di lain sisi, ia membaca percakapan Selia dengan teman lelakinya di sosial media tentang hal yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan perasaan, hanya sebuah barang yang menjadi topiknya. Itu pun tak dijadikan ajang kebiasaan untuk mengobrol selanjutnya dengan topik yang keluar dari kepentingan syar'i. Ozor merasa itu tak adil bagi dirinya. Selia tak mau ambil pusing. Ia tak menghiraukan Ozor yang tengah uring-uringan.
Hari berganti hari, pekan berganti pekan, Ozor kembali menghilang dari sekeliling Selia. Selia tengah mematut diri di depan cermin. Bersiap untuk pergi ke toko buku. Ia memutuskan untuk menghabiskan akhir pekan dengan memanjakan mata melihat bermacam-macam buku, barangkali ada beberapa yang membuat ia terpincut lantas mengantonginya untuk dibawa pulang. Ya tentu saja dengan menukar buku tersebut oleh uang seharga bukunya.
Setengah jam berlalu, ia masih mencari buku mana yang akan dibeli. Satu buku berjilid merah jambu menarik hatinya untuk melihat buku tersebut. Jika dilihat-lihat sepertinya itu tergolong buku panduan pernikahan, seputar rumah tangga, panduan menjadi seorang istri atau semacamnya mungkin. Tangannya menjangkau tumpukan buku di hadapan. Buku yang ia maksud letaknya berada di jajaran yang cukup tinggi, sehingga ia harus susah payah merogohnya. Brug! Satu buku terjatuh. Selia tersenyum akhirnya buku itu bisa dilihatnya.
Buku itu masih tergeletak di lantai. Selia lantas membungkukkan badan untuk mengambilnya. Saat hendak berdiri lagi, matanya tepat menangkap satu sosok yang tengah berdiri sejauh kurang-lebih lima meter dari tempatnya berdiri. Selia bergetar lemas dan memutuskan untuk segera pergi sebelum lelaki itu menoleh ke arahnya.
Brug!
"Mba, kalau jalan lihat-lihat dong!" seorang wanita di hadapannya tak sengaja tertabrak oleh Selia yang tengah cemas.
"Iya, maaf. Sekali lagi maaf ya, Mba."
"Ya sudah, tak apa."
Tanpa tunggu lama, ia berlari meninggalkan tempat itu untuk segera keluar dari toko buku tersebut. Selia bergegas menuju eskalator. Malangnya, sesak sekali di sana. Para karyawan yang hendak makan siang mengantri untuk sama-sama ke lantai satu juga.
***
Lelaki yang tadi dilihat Selia menoleh mendengar suara gaduh di seberang. Rasanya ia kenal pemilik suara itu. Sayang, wanita yang berpakaian serba coklat itu memunggunginya. Ia tak bisa melihat wajahnya untuk memastikan pendengarnya tidak salah. Saat gadis berjilbab itu masih berbincang dengan wanita di hadapannya, ia segera berjalan mendekat. Wanita yang ditabrak gadis itu berlalu dan belum sempat ia mendekatinya, gadis itu sudah berlari pergi.
Ia ikut berlari mengejar gadis itu. Beruntung, banyak karyawan yang tengah menggunakan eskalator juga. Jadi setidaknya itu bisa melambatkan pergerakan gadis yang berlari tadi. Ia tengok ke bawah, gadis itu masih dalam setengah perjalanan eskalator. Tanpa tunggu lama ia menyelip di antara kerumunan orang yang tengah mengantre eskalator juga. Tak mau menunggu, ia menyelip di anatar orang yang berdiri menunggu eskalator bergerak ke bawah. Ia turuni anak tangga satu per satu. Gadis yang dilihatnya telah berhasil mencapai mulut pintu keluar.
"Tunggu!" teriaknya pada gadis di hadapannya yang tengah berjalan cepat.
Gadis itu sama sekali tak menggubris teriakan si lelaki. Ia meneruskan langkahnya.
"Aku tahu, kau adalah Selia!" masih dalam suara setengah berteriak.
Ya, benar terkaannya. Gadis berjilbab coklat itu tak lain adalah Selia. Seketika Selia menghentikan langkah dan mematung tanpa membalikkan badan. Lelaki yang bernama Ozor itu ikut menghentikan langkah dan mengatur napasnya yang tersengal karena lelah berlari.
"Mengapa belakangan kau seperti menghindariku?"
Selia diam. Cukup kejadian saat itu membongkar perasaannya. Ia tak mau salah bersikap lagi.
"Mengapa kau diam? Apa salahku sehingga kau perlakukan aku seperti ini?"
Selia masih diam dengan posisi memunggungi Ozor.
"Aku sudah penuhi maumu untuk tak menghubungimu karena kau bilang tak ada bedanya dengan orang berpacaran jika kita masih mengadakan kontak seperti itu. Baik, sudah aku penuhi semampuku. Tapi mengapa kau berbicara dengan dia di sosial media? Itu benar-benar tak adil bagiku! Kau menjauhiku tapi kau berbicara dengan teman lelakimu. Sedang aku sama sekali tak kauperbolehkan untuk menghubungimu. Mengapa, Selia? Mengapa?!" Ozor terlihat kesal.
"Justru sebab aku paham sekali kau menyimpan perasaan untukku. Begitupun sebaliknya aku. Aku tak mau hanya karena hal itu kita bisa tergelincir pada tipu daya iblis. Sebab aku paham kondisinya. Lagipula tak ada yang spesial tentang obrolanku dengannya, hanya menanyakan perihal sebuah barang. Sudah itu saja. Bukan sayang namanya jika kuajak orang yang kusayangi itu ke jurang neraka. Ini jalan yang kupilih untuk menghindarkan kita dari hal itu," gumam Selia dalam hatinya.
"Selia, kau masih ingat janjiku padamu? Aku akan mendatangi walimu. Aku tahu kau belum siap, aku belum siap, masih ada yang harus kita persiapkan. Tapi aku manusia biasa Selia. Saat aku merasa kehausan itu datang, apakah aku masih harus menunggu hujan sementara ada telaga yang menyegarkan airnya?"
Pertanyaan itu terasa menusuk, berusaha mengobrak-abrik tanggul kesabarannya. Namun Selia tetap pada prinsipnya untuk diam akan perasaannya. Dengan tegas ia katakan, "Jika dengan menunggu hujan kau bisa mati kehausan, apa salahnya meneguk air dari telaga yang kaujumpai? Tak perlu bersabar menunggu hujan jika itu mematikan."
Selepas mengucapkan kata itu dengan mantap, Selia meninggalkan Ozor yang masih mematung. Ozor tak perlu tahu bagaimana perasaan Selia ke depannya. Diamnya Selia adalah bentuk bicaranya. Doanya adalah lisan yang menyuarakan apa yang ia rasa. Sebab Selia percaya, tulang rusuk tak akan tertukar dengan pemiliknya. Sejauh apapun jarak memisahkan, sehampa apapun tanpa kata, jika yang telah memasang-masangkan manusia berkata bahwa ia berjodoh dengan Ozor, maka tak ada yang bisa menghalanginya. Begitupun sebaliknya.
=====
"Dorrr!" Fanya menepuk pundak Selia.
"Aduh, Kakak. Ngagetin ajah deh." Mata sipitnya mengisyaratkan ia tengah menyimpul senyuman.
"Lagian... Ngelamunin apa sih kamu? Pasti Ozor ya?" Fanya ikut duduk di sampingnya menatap matahari yang beranjak tenggelam di kaki langit barat.
Selia semakin terkembang senyumnya, terlihat dari matanya yang semakin menyipit, mirip orang hendak memejam mata. "Kain kafanku tengah ditenun, Kak. Bukankah lebih baik aku menafakuri kematian daripada sibuk menggalaukan orang yang tak halal untukku?" ucapnya dengan mata yang masih lekat memandang gurat senja.
"Ya... barangkali gitu. Barangkali kamu mikirin janjinya yang mau nikahi kamu. Barangkali kamu mikirin perjalanan hidup kamu nanti dengan dia," tebak Fanya asal-asalan.
"Perjalan hidup? Ya, perjalan masih jauh, Kak. Kampung akhirat masih jauh. Itulah perjalanan sesungguhnya. Maka, bukankah sepatutnya aku menyibukkan diri untuk memikirkan bagaimana caranya mendapat bekalan yang banyak untuk kehidupan selanjutnya daripada memikirkan kehidupan ke depan dengan orang yang belum tentu ditakdirkan bersamaku?" Selia masih tetap dalam senyumnya.
"Duh... bijak sekali nih kamu," ucap Fanya sambil mengacak-acak kepala Selia. "Eh, pulang yuk! Noh lihat matahari udah mau tidur dan diganti peran sama rembulan!" tunjuk Fanya ke langit.
"Yuk! Kita pulang, Kak," ucapnya sambil berdiri.
"Yuk!" Wanita yang tinggi semampai dengan kulit hitam manisnya ini merangkul pundak Selia, melingkarkan sebelah lengannya.
"Lagian Selia lapar nih." Selia mengusap-usap perutnya sambil tertawa kecil.
"Hah? Tumben kamu lapar. Tapi bagus deh, lain kali serong-sering mikirin kematian lagi ya." Fanya cekikikan.
"Loh, emang kenapa, Kak?" tanya Selia keheranan.
"Ya bagus aja. Dengan itu kamu jadi terkuras tenaganya lantas kan nanti lapar kaya sekarang, pasti banyak makan deh nantinya. Biar...," Fanya menjeda bicaranya sambil memicingkan mata ke arah Selia.
"Biar apa, Kak?" Selia terlihat tak sabar menunggu kelanjutan bicara Fanya.
"Biar... Ga cungkring dan mungil kaya giniii!" teriak Fanya sambil berlari, Fanya tertawa lepas berhasil menggoda Selia.
"Ah... Kakak... Ada-ada aja," balas teriak Selia.
Selia ikut tertawa dan berlari mengejar Fanya yang sudah jauh di depannya. Potongan mentari terlihat semakin sedikit di kaki langit. Seterusnya, Selia akan berusaha sekuat tenaga untuk menyembunyikan perasaannya. Sekalipun Ozor harus merasa geram dan salah paham atas diamnya Selia padanya, itu tak mengapa. Itu lebih baik daripada harus berdekat-dekatan sementara takdir manusia tak ada yang pernah tahu. Sebab lewat diam sejatinya Selia berbicara bahwa ia ingin menyayangi hanya karena Allah yang menjadi alasannya.
_______________
Kota Kembang,

Muharram 1436 H.

Azalea Senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hamba Allah yang fakir akan ilmu, miskin akan amal, dan lancang mengemis Ridha-Nya dengan maksiyat dan dosa. #NovelisMuda

Pujangga Belantara

Info Lomba Menulis

Follow Me