Index Labels

Cerpen Inspiratif: Lelaki Perindu Senja

Posted by Ucu Supriadi
Di tepi sawah dekat waduk cilimus, terdapat seorang pemuda tengah melamun, terpekur memandangi senja yang begitu indah menyulam sore di desa Jatisura. Kemilaunya mengais langit begitu indah menakjubkan. Wajah langit tampak elok berhias jingga dengan burung-burung punai bertebaran. Semilir angin menyepoi, membelai wajahdan pundak sang pemuda. Sejuk, damai dan tenteram yang ia rasa. Mengusir segala kerinduan yang ia sembunyikan dibalik air mata.

Sesaat ia seka air mata lantas memandangi burung punai yang tampak asyik bersenda gurau di bawah langit senja. Mengepakkan sayap dan bercicit ria mendendangkan irama langit, menggema dalam kebisuan sore yang menjelma. Bebas, penuh cinta dan tanpa beban, begitulah bahasa tubuh yang hendak si burung punai sampaikan padanya. Mereka seolah tak memikul beban berat dan tak ambil risau akan alur kehidupan ini yang masih gelap berlapis misteri.

Setelahnya,ia kembali mendongak melihat semburat Lukisan-Nya yang indah menawan mata,senja. Senja kembali menyihirnya, hampir bola matanya tak lepas dari tatapan takzim akan makhluk Ciptaan-Nya. Itulah mengapa ia ingin sekali menjadi senja,yang dirindukan kehadirannya dan penampakkannya menjadi hal-ihwal kedamaian.

Dalam tatapannya ia berpikir, siapa yang menciptakan burung-burung punai yang indah dan merdu itu? lantas mengajarkannya terbang gemulai menghias langit? Siapa juga yang menciptakan senja? Kenapa senja diciptakan kala sore tidak siang atau pagi hari? Dan siapa yang menghembuskan angin sehingga tercipta darinya kesejukkan? Siapa pula yang menciptakan air mata? Kenapa tangisan suka dan duka keluar dari mata yang melelehkannya di pipi?

Seketika pertanyaan yang mungkin orang lain lalai dipertanyakan itu menghujami peredaran otaknya. Tak selang lama, tiba-tiba suara almarhum ayahnya berbisik dalam ingatan, mengejakan sebuah jawaban.

“Nak, ingatlah selalu perkataan ayahmu ini, betapa pun lamanya kau hidup, entah ayah sudah pupus atau tegar menginjak bumi bersamamu. Bahwasanya semua yang ada di dunia ini pasti ada Sang Pencipta, apapun itu. Coba kau tengok padi kuning yang siap dituai itu, sang padi tidak akan jadi dengan sendirinya tanpa ada orang yang menanam biji padi tersebut. Padi ada sampai menguning seperti itu pertanda ada “sesuatu” yang menghadirkan dan merawatnya. Dan “sesuatu” itu yang dinamakan pencipta, pencipta padi yang bertugas menjaganya. Pun dengan kehidupan ini, burung ada dan bisa terbang karena ada “sesuatu” yang menciptakan dan menerbangkan burung tersebut. Begitupun dengan angin dan air mata. “Sesuatu” itu tak lain dan tak bukan adalah Allah, Rabb Semesta Alam. Tuhan kita semua.

Senja ada dan menempatkannya di sore hari karena sudah skenario dari Allah yang menciptakannya. Senja dan sore adalah harmonisasi alam. Seperti halnya pagi, harmoni alamnya fajar, siang harmoni alamnya surya dan malam harmoni alamnya rembulan.

Kenapa Allah mengucurkan air kesukaan dan kedukaan di mata dan melelehkannya di pipi? Karena mata adalah titik rawan manusia mencipta dosa sedangkan pipi merupakan telaga pelebur dosa. Sehingga Allah kucurkan air untuk meleburkan dosa tersebut, entah peleburannya dengan kesukaan lalu bersyukur atau kedukaan lantas bersabar. 

Jadi salah total kalau ada orang yang mengatakan bahwa alam semesta, kehidupan dan manusia yang teramat kompleks ini ada dengan sendirinya tanpa ada proses penciptaan, tanpa ada campur tangan Sang Pencipta, Allah.

Padahal Allah telah berbicara pada kita dalam Qur’an Surah Al-Imran ayat 190. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal”

Pelan tapi pasti bisikan itu diterpa semilir angin yang menerbangkannya ke angkasa raya. Lembut dan menghilang.

Kala sore menjelang, tepi sawah menjadi tempat favoritnya untuk memikirkan keagungan Allah yang Maha Dahsyat. Tempatnya berkontemplasi diri. Dan di waktu senja menyapa, desa Jatisura kelihatan damai. Tak ada gemerlap lalu lintas duniawi seperti halnya di perkotaan, hanya kesejukkan dan keasrian yang tercipta dari bentangan sawah hijau terkotak-kotak. Dan di sawah itulah, sawah paling ujung, pojok kiri, dia menghabiskan masa kecilnya bersama ayahnya. Bermain lumpur, ketawa-ketiwi,menanam biji kacang, tomat dan lain hal.

Darisana pula, ia mendeklarasikan dirinya menjadi lelaki senja. Lelaki yang bukan hanya dirindukan kehadirannya, ataupun kedamaian yang tercipta darinya, akan tetapi segala kemaksiyatan yang telah ia ukir di masa lalu, telah ia senjakan pada senja-Nya yang menyemburatkan noda kelam masa lalunya. Dari hitam-kelam menjadi keemasan berharga. Senja merupakan harmoni alam yang senantiasa ia rindukan. Dialah aku, fatih akhimullah.

“Kau tahu? senja adalah saat terbaik menceritakan kisah rindumu pada dunia, sebab di sana akan kau temukan jawaban diantara angin dan pejaman mata.”

Kelopak mata yang terpicing, langsung kubuka lantas melirik ke belakang, melihat siapa rupa yang bicara, “oh rupanya kau hamdi, sejak kapan kau ada di sini?”

“Sejak hatimu bercerita atas kenangan bersama ayahmu.”

“Darimana kau tahu bahwa aku sedang bernostalgia bersama ayahku dalam ingatan?”

“Aku sudah kenal dekat denganmu, matamu tak bisa berkilah. Saat senja, pasti kau adadi tempat ini, senantiasa mengisahkan rindumu pada dunia. Pasti ayahmu ada dalam barisan rindumu.” Balas hamdi duduk sembari menepuk pundakku.

Dengan tetap menatap senja, aku berujar, “jujur di, senja menurutku spesial. Hanya datang pada waktu tertentu. Saat dia datang, dia membawa keindahan. Dan satu lagi, kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita juga bisa hadir lewat do’a yang terlantun. Namun dengan berada di sampingnya, kita dapat berbagi perasaan, perhatian dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif.” tuturku sambil melempar batu ke tengah sawah.

“Kau rindu pada ayahmu? ” tanya hamdi sembari melempar batu ke arah sawah yang tadi aku lempari.

“Entahlah, ketika senja datang pasti aku rindu akan ayah. Tak tahu kenapa? Mungkin banyak kisah yang telah aku jalani bersamanya di kala senja.”

“Oh seperti itu. Oh ya, apakah kau suka main tebakan hikmah bersama ayahmu?”

Trap. Hatiku langsung terpasung, mendengar pertanyaan dari hamdi barusan. Karena yang tahu aku suka main tebakan hikmah hanyalah ayahku seorang, tak ada yang lain. Tapi kenapa hamdi, sahabatku bisa mengetahuinya? Sekelumit tanya bergelayut padanya.

“Iya, aku suka. Bahkan sangat suka. Dari mana kau tahu, bahwa aku suka tebakkan hikmah bersama ayahku?” hamdi hanya diam. Tak ada reaksi apapun darinya.

“Kalau menurutmu hal apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”

“Kedua orang tua. Ayah dan ibu.” Jawabku, tapi hamdi diam.

“Guru dan kawan dekat.” Kembali dia diam. Aku melipat dahi.

“Semua jawabanmu itu benar, tetapi ada yang paling dekat dengan kita adalah Mati. Sebab itu janji Allah, bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. Hal itu tersurat dalam Ali-Imran ayat 185.

Sekarang giliranku yang bertebak hikmah. “Menurutmu, apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?” tanyaku pada hamdi. Aku merasa menang, karena hamdi pasti tak bisa menjawab, karena pertanyaan itu pernah terlontar dari ayahku, dan aku pun gelegapan tak bisa menjawab.

“Hal yang paling jauh adalah Masa Lalu. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.” jawabnya begitu mantap.

“Haaah!? Dari mana kau tahu jawaban itu?” tanyaku menoleh ke arah hamdi, dan ternyata orang yang disampingku bukanlah hamdi, dia AYAHKU!

Aku kaget bukan main, dan langsung kupeluk orang yang ada disampingku sambil berteriak. “Ayaaaahhhhh!” dan tiba-tiba. . . Bruk! Aku tersungkur, terjatuh dari tempat tidur. “Astaghfirullah, ternyata hanya mimpi! Tapi kok rasanya seperti sungguhan?” gumamku gusar bercampur kesal. Mataku melirik kearah jam dinding kamar, jarum jam berhenti diangka dua.

“Mungkin ayah ingin membangunkanku agar segera shalat tahajud. Untuk membalas kembali tebakkan hikmah lewat lantunan do’a untuknya.” Akulangsung bergegas bangun menuju kamar mandi mengambil air wudlu.

30 menit kemudian. Setelah shalat tahajud dilengkapi witir danzikir, aku balas tebakkan hikmah untuk ayahku tercinta di alam sana.

“Wahai Ayah. Terimakasih karena Kau telah ajarkan aku tentang kebaikan. Kau tunjukan aku tentang arti cinta. Kau jelaskan aku tentang makna kehidupan. Dan kau didik aku dengan sungguh bertala kasih sayang.

Wahai Ayah. Betapa mulianya hatimu. Kau korbankan segalanya demi anakmu. Kau banting tulang hanya untuk anakmu. Kini, aku berjanji untuk semua kerja kerasmu. Aku berjanji untuk semua kasih sayangmu. Dan aku berjanji untuk ketulusan hatimu. Bahwa aku akan selalu melantunankan do’a untukmu. Serta menjaga amanah yang kau pikulkan padaku, menjaga ibu.

Wahai Ayah. Walau jarak dan alam memisahkan kita, namun semangat dan energi cintamu masih membara dalam relung hatiku. Lantunan nasihatmu masih menggema dalam peredaran otakku. Sampai hal itu terbawa ke dalam alam mimpi. Sukmamu masih bersemayam dalam selaput ingatanku, sehingga aku bingung tak bisa membedakan mana alam sadar dan mana alam kapar.

Wahai Ayah. Masih kuingat tentang bagaimana kau tunjukkanku cara mengikat tali sepatu, bagaimana diriku yang selalu salah dan membuatmu lelah selalu. Tak peduli bagaimana ku letih dan jenuh, guraumu membuatku paham arti sabar menjalani segala sesuatu dengan tulus apapun itu.

Wahai Ayah. Masih kuingat tentang bagaimana kau ajarkanku mengayuh sepeda, bagaimana aku yang selalu goyah dan jatuh kan terluka. Tak peduli seperti apa ku menangis dan bermanja, perhatianmu membuatku paham arti tertatih menuju bahagia dan menjaga diri ketika kelak dewasa.

Wahai Ayah. Masih kuingat ketika kau lukiskan perangai Muhammad kepadaku, yang membuat hati ini selalu rindu. Ketika kau ajarkanku Iqra', yang membuat ucapan ini tak pernah mengeluh. Ketika kau peluk aku, dan ku juga memelukmu.

Wahai Ayah. Caramu berbeda tak seperti ayah mereka itu, kau tuntun aku keras untuk mengenal si lembut. Kau bimbing aku lantang menantang maut dan pantang berlutut, kau tinggalkanku sendiri agar manja tak lama terpaut, kau tuntun aku kuat hingga lemah pun takut.

Wahai Ayah. Halusmu... Candamu... Tegasmu... Semua demi aku yang sampai kini masih tak berguna.

Wahai Ayah. Hangatmu... Suaramu... Tegarmu... Segala demi aku yang hingga kini masih bermanja.

Ketika sedih menghampiriku dulu, kau pun perih menahan sembiluh. Berjalan di antara hujan menahan dingin angin denganmu, apapun kau lakukan demi senyum dan tawaku.

Masihkah kau ingat yah. Bagaimana kita menghabiskan hari dengan bersuka cita, melempar tawa di bawah langit senja, di sawah dekat waduk cilimus? Di sana Kau mengajarkanku makna perjuangan. Makna hidup susah. Makna dianggap hina oleh makhluk dungu bernama manusia. Aku rindu senja itu yah. Senja bersamamu.

Wahai Ayah. Namun, tak ada hal yang bisa ku lakukan saat ini, selain do'a dan lantunan Qur'an untukmu dari hati.

Kaulah yang ketiga setelah ibu dalam suara Nabi Mulia, namun tanpa tanganmu para Mujahid dan Syuhada takkan ada. Dari sosok seorang lelaki kuat para Ayah'lah mereka tercipta.

Wahai Ayah. Dari sosokmu aku lebih mengenal dunia dan dengan wajahmu, aku melihat surga.

Ayahanda. Kusedih melihat ibu letih dan lemah, hatiku gerimis menatap pandangan kosong ketika ibu menata gambarmu di atas meja, jiwaku pecah ketika ibu mendoakanmu dengan air mata yang berjatuhan di atas sejadah.

Wahai Ayah. Inilah balasan dari tebakan hikmah dariku. Semoga Kau tenang di surga sana. Dari Fahrul, anakmu yang banyak dosa dan durhaka.

Setelah aku melantunkan balasan hikmah untuk ayahku. Aku ambil album foto kecilku bersama ayah, lantas kukecup begitu mesra. “Yah, kapan kita bermain kembali dan berlempar hikmah di bawah langit senja? Yah, Aku rindu padamu dan aku pun merindukan senja bersamamu. Wahai Pencipta senja, sampaikan alunan rinduku pada makhluk-Mu yang bernama Ayah. Alm. Saleh bin Haji Yunus.”

Semoga Allah merangkul do'amu, nak" timpal ibuku dari belakang sambil memelukku erat dan mencengkeramku dengan airmata.

>>> Mohon kritik dan sarannya yang membangun dari temen-temen. Syukron :)

Salam cinta sejuta rindu, @ucu_supriadi


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hamba Allah yang fakir akan ilmu, miskin akan amal, dan lancang mengemis Ridha-Nya dengan maksiyat dan dosa. #NovelisMuda

Pujangga Belantara

Info Lomba Menulis

Follow Me