Index Labels

Cerpen Inspiratif: Filsafat Cinta

Posted by Ucu Supriadi

Aceh, Tanah Rencong 25 Mei 2015

Ibuku,

“Ibusengaja kukirimkan surat ini padamu, hanya ingin bertegur sapa dan melepas jerat rindu yang kian mendera. Sekarang, aku paham bahwa waktu dan jarak merupakan tabir, tabir hidup yang akan membuka rahasia besarnya, apakah rindu itu semakin membesar ataukah memudar?  

Ibu, di sini aku banyak belajar, belajar hal yang membuatku tegar. Allah mengajariku cara memahami hakikat hidup. Dia ingin aku belajar sesuatu! Dia ingin memaparkan sebuah ketegaran dan keberanian yang ditunjukkan-Nya lewat seorang makhluk yang bernama cinta.

Aku belajar sedikit demi sedikit dari proses ulat bulu menjadi kupu-kupu. Bangun dari kekalahan. Bangkit dari kenyataan pahit tentang kematian yang akan memendekkan perjalanan hidupku.

Aku belajar untuk tabah menghadapi penyakit yang akan memangkas usiaku yang kini cuma sejengkal tangan. Aku jadi lebih tegar seperti karang. Karena sesungguhnya hidup itu tidak serumit yang dibayangkan banyak orang. Hidup untuk saling mengasihi tanpa pamrih merupakan anugerah indah. Aku merasa bahagia telah menyatukan dua hati itu. Dan itulah hakikat hidup yang Allah ajarkan padaku!

Sungguh. Meskipun sesaat rasanya sakit, tapi kebahagiaan orang-orang yang terkasih telah menumbuhkan rasa lain di hatiku. Jauh mengalahkan rasa sakit itu. Bahkan sama sekali menyaputnya dengan sukacita.

Ibu, izinkan aku menyulam benang kasih yang telah kau tenun dengan sutera kata tentangmu. Engkau merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir-bibir manusia. Dan engkau merupakan sebutan terindah. Kata yang semerbak, menguak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.

Engkau adalah segalanya. Sayap suci dalam kehidupan. Engkau adalah penegasku dikala  lara, impianku dalam sengsara, rujukanku dikala nista, dan obat mujarab dikala hati terbenam luka.

Ibu, engkaulah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan mendo’akannya. Serta tak ada lagi embun nasihat yang menyegarkan, dikala mulut bersilat lidah.

Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi yang menyusui melalui panasnya. Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu, tembang burung-burung  dan sungai-sungai.

Bumi adalah ibu pepohonan dan bunga-bunga. Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan dan bunga-bunga  adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian. Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud. Penuh cinta dan kedamaian.”

Aku masih menghimpun napas. Atmosfer sunyi masih mengambang ketika rembulan mulai memayungi masjid baiturrahman yang membentang luas di atas awan. Gelembung paru-paruku belum kuat mengembuskan wacana. Kutarik kembali pena yang sempat terkulai beberapa detik.

“Aku ingin tetap hidup, bu. Tapi tentu saja semua itu tidak cukup hanya sebatas kata-kata. Aku harus memperjuangkannya. Tentu! Allah pun  tahu di mana titik aku harus pergi meninggalkan dunia. Aku tidak boleh menerima nasib ini begitu saja. Aku akan memperjuangkan kesembuhan diriku. Aku tidak boleh menyia-nyiakan kobaran semangat yang telah ibu berikan untuk kesembuhanku agar tetap dapat bertahan hidup.

Sungguh. Kalau aku ingat wajah ayah yang berseri di surga sana, Aku terpacu, bangkit dari penyakit ini! Juga motivasi dan dorongan moril dari ibu, mana boleh aku begitu lemah dipermainkan penyakit?! Mana boleh aku begitu?! Benarkan bu?!

Ibu, oleh karena itu aku terus mengusahakan kesembuhan diriku. Menjalani serangkaian terapi dan pengobatan bersumber dari alam. Dan pada akhirnya, lewat bantuan hamba Allah yang terahasiakan namanya,  aku menemukan saudaraku, sang donatur sumsum tulang yang tepat. Ini mukjizat dari langit untukku, Ibu! Ini mukjizat!

‘Alla kulli hal, pada akhirnya keyakinanku membuat Allah tersentuh. Dia mendengar doa-doaku. Dan Dia memberikan mukjizat melalui kesembuhan diriku. Operasi transplantasi sumsum tulang telah berhasil aku jalani. Aku selamat bu. Aku bahagia. Sangat bahagia. Dari sini aku menyadari sepenuhnya bahwa aceh adalah kota serambi mekkah. Kota yang menyimpan seribu malaikat berjisim manusia.

Ibu, saat membaca suratku, mohon jangan menangis. Walaupun aku buta akan keberadaanmu. Tapi tak peduli, di manapun ibu berada, jangan mengkhawatirkan aku lagi. Aku sudah paham dalam merangkul masalah, dan aku pun bukan Nuril kecil lagi yang mengadu pada ibu dikala sakit mendekapku.

Alhamdulillah, kembali kupanjatkan, aku dan saudaraku yang lainnya sudah tiba dengan selamat di kota Aceh, Indonesia. Yang dikenal alam dengan sebutan serambi mekkah, kota pancaran Makkah al-Mukarramah.

Aku pun kembali menyadari, ternyata Indonesia masih menyimpan orang-orang yang nuraninya masih hidup. Jujur. Selama tiga bulan lampau, aku dan saudara-saudaraku yang lainnya terkatung-katung di atas kapal. Terombang-ambing tak tentu arah. Laut dan samudera menjadi saksinya. Air seni sebagai minuman dan ikan-ikan laut yang masih hidup sebagai makanan buat kami. Yang anehnya, aku masih bisa bertahan hidup. Sekalipun situasi dan kondisiku yang mustahil rasanya kehidupan terus mendekapku. Ini pun mukzizat, bu! Mukjizat bagiku!

 Sedih. Memang sedih. Aku dan saudaraku ditolak sana-sani, seperti barang najis yang haram untuk dipingit. Atas nama sekat teritorial mereka tega melakukan itu. Aku benci sekat itu, bu! Benci sekali!

Dan Alhamdulillah, restu Allah menjadi dermaga atas penantian kami selama tiga bulan, warga aceh, tepatnya warga langsa dengan besar hati menerima kedatangan kami. Mereka adalah utusan Allah bu, kiriman do’a dari ibu-ibu rohingya.

Di sini, aku merasa jauh lebih baik dan aman ketimbang hidup di Negara biksu sana, karena tak ada lagi teror yang menikam hari kami. Kami pun bisa menyicipi mekkah dalam miniatur aceh. Sekaligus menemukan  jati diri hamba Allah yang terahasiakan namanya, yang menjadi perantara kesembuhan penyakin tulenku. Mungkin dialah sang tafsiran filsafat cintaku, yang tempo dulu pernah aku ceritakan pada ibu. Bahwa aku bermimpi menyentuh bintang dengan jari kelingkingku. Dan kata ayah aku akan bersanding dengan perempuan yang elok bak bintang-gemintang. Sedangkan aku adalah mataharinya. Matahari yang dengan ikhlas menafkahkan cahayanya pada sang gemintang. Mereka berdua bermanfaat satu sama lain.

Entah siapa dan di mana ia berada. Yang jelas, aku akan menemukannya dalam keadaan sempit atau lapang dan cepat atau lambat, di tanah rencong ini. Di sini pula, Aku merasa lebih sedikit dewasa. Mungkin waktu telah menempaku banyak hal.

Ibu, mungkin sudah saatnyalah aku menghentikan hanya melukis punggung orang-orang. Aku ingin melukis wujud orang sesungguhnya. Wujud dirimu yang pertama kali akan kulukis. Karena dari keutuhan wujud lukisan itulah aku dapat melihat keberanian seorang ibu. Yang berani dan jujur melihat sisik-melik kehidupan, dan menerima apa pun yang telah digariskan Allah untuknya!

Terima kasih untuk segalanya. Semoga Allah selalu melindungi ibu, di mana pun ibu berada. Di surga ataukah masih menapak di jagat raya. Engkaulah perempuan terbaik di dunia, dan investasiku menuju surga.

Salam rindu,

Nuril, si anak manja.

Setelah menulis surat, aku matikan damar dan mematung serupa sano. Bingung karena hendak ke mana akan kukirim sepucuk surat ini. Aku taruh di bawah tikar kusut pengungsian. Membuka jendela camp dan sejurus kutangkap kilau di kedalaman mata rembulan.

Telaga bening di depan pengungsian memapar tenang. Namun kutahu riak yang mengalir memantulkan mata rembulan yang tampak sembab. Entah kenapa. Sesuatu yang tidak pernah dapat kutangkap karena terselubung misteri.  Aku masih berdiri, keluar dari camp dan kembali terdiam di bawah bentangan langit malam. Kuhimpun udara dalam hidung, kuhembuskan secara perlahan.

“Kamu kenapa ril?" tanya randi yang sedari tadi gusar dengan gelagatku. Wajahnya yang bersinar ditimpa sinar rembulan yang sudah gagah menguasai malam, sekalipun sudut matanya tampak sembab.

Aku menoleh sebagai tanggapan atas visualisasi yang kuaktualkan dalam kalimat penggugah keterdiaman. Kuceritakan kegundahan hatiku, akan nasib kami, status muslim rohingya di aceh yang hanya dapat jatah satu tahun mengontrak di bumi Allah, indonesia. Aku pun bercerita tentang terkaan di mana ibuku berada. Sekaligus kujelaskan juga orang yang menjadi tafsiran atas filsafat cintaku. Tapi kalimatku membentur dinding beku hatinya. Tak sedikit pun ia menanggapi cerita yang aku ajukan.

Sedetik ia memandangku dengan rupa tak berona. Sungguh. Aku tidak berharap reaksi itu mengemuka meski telah kuduga sebelumnya bahwa ia akan melakukan hal yang sama, terdiam dengan benak yang dipenuhi kenangan babur. Dan rinai mata pada akhirnya mejadi dialog kami berikutnya.

Aku duduk pelan-pelan dengan diikuti randi depan camp. Kala ia mengembalikan pandangannya pada bentangan langit yang mulai menoktahkan gemintang. Aku bergumam dalam hati. “Ya, Allah. Terlalu naif rasanya mengharap secuil tanggapan di saat luka psikis itu belum mengering dari hatinya.

Aku menggigit bibir. Mungkin Allah tengah mengajariku tentang pelajaran berikutnya. Pelajaran hakikat sabar dan ikhlas. Kami yang terasing dari dunia-Nya ini merupakan beban yang mesti kupikul agar tidak dapat melangkah sesuka hati lagi.  Allah ingin aku bertanggung jawab atas beban yang ditaruh di atas pundakku. Allah ingin mendewasakan aku dengan kesabaran dan keikhlasan-Nya.

Tapi lepas dari semua itu, aku merasa kehadiran randi telah mengisi hidupku dengan penuh warna. Ia telah menjadi bagian dari hidupku belakangan ini. Ia secara tidak langsung mengajari aku bagaimana bertanggung jawab. Merawatku dengan telaten ketika terkatung di atas kapal.

Randi lebih luka dariku, ayah dan ibunya sudah tiada semenjak ia masih dalam asuhan bibinya. Apakah takdir terlalu kejam mempermainkan Randi?! Aku menggeleng. Aku sendiri tidak tahu. Hanya, aku yakin hati randi pasti hancur. Karena kebiadaban biksu Burma yang berani menumpahkan darah, menerorkan kekejamannya pada kami, hampir berpuluh tahun lamanya.

Dalam cekaman keheningan. Randi menghela napas panjang. Dadanya berdebar. “Menurutku, cinta ibarat akar, yang tak mungkin kau temukan hanya sebatas melihat ranting dan dahan. Galilah! Maka kau akan temukan cinta yang mengakar penuh kekuatan.”

Aku kaget lantas spontan bertanya, “apa kau sudah menggali kedalaman cinta, randi?”

“Apakah perlu hatiku kau bedah untuk menunjukkan kedalam cintaku pada orang-orang yang aku cintai? Perlukah itu, nuril?” Aku menggeleng.

“Cinta yang agung tak ada syarat untuk ditampakkan. Ia akan semerbak, tercium oleh hidung-hidung suci tanpa noda.” Sambungnya menghentak relungku.

“Carilah orang yang menurutmu bisa menafsirkan filsafat cintamu. Nikahi ia jika perempuan. Saudarakan ia jika laki-laki. Namun, ketahuilah! Aku sudah menemukan orang yang berhasil menafsirkan filsafat cintaku. Bukan ibu, ayah atau yang lain, melainkan DIRIKU SENDIRI. Dialah sang filosof cinta sesungguhnya. Kenali dan cintai ia, maka kau akan menemukan makna kekuatan dan kedalaman cinta. Hakikat dari filsafat cintamu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hamba Allah yang fakir akan ilmu, miskin akan amal, dan lancang mengemis Ridha-Nya dengan maksiyat dan dosa. #NovelisMuda

Pujangga Belantara

Info Lomba Menulis

Follow Me