Index Labels

Senyum Terakhir untuk Umi (episode terakhir)

Posted by Ucu Supriadi

Di ruangan 601, umi masih terbaling lemah bersama alunan mimpi yang masih memanjakannya. Alat infus masih mesra mencengkeram hidung umi. Dadanya sesekali berhembus, lantas diam kembali. Kebekuan lagi-lagi merampas suasana.

Waktu masih memburu, detak jam terus merambat dan simfoni hidup terus merangkak. Tak selang lama, pintu kamar seperti ada yang mendorong, merengek terbuka. Masuklah sesosok wanita yang begitu anggun, berhias jilbab yang terulur, dagu yang lancip dan mata yang biru ditopang kacamata. Dia-lah Bu Arumi, dosen matematika sekaligus pembimbingku, yang begitu ramah dan mudah bergaul dengan siapapun. Termasuk mahasiswa yang dibinanya, Aku.

****
Langit Majalengka melukiskan panorama indah nan menakjubkan. Dengan semburat senja menyingsing di katulistiwa lantas menggulung mentari yang redup bersinar. Di ufuk barat mentari mulai tertidur menuju peraduan, jubah langit berubah menjadi hitam yang tampak kelam dipandang mata. Sinar rembulan mula-mula menelan puncak gunung ciremai. Lalu menelan pucuk-pucuk menara Masjid Al-Imam Majalengka. Lalu perlahan menelan insan-insan yang mulai mereda dari aktivitas. Dan sempurnalah sinar terang yang menyoroti seantero tanah majalengka, yang begitu harmonis memadukan warna.

Azan maghrib saling bersahutan antara masjid satu dengan masjid lainnya, ia layaknya instrumen yang dimainkan sang komponis sehingga selaras dan tak ada yang rompang setiap untaian nada yang mengalun. Karena azan merupakan instrumen Illahi yang siapa saja mendengarnya akan hanyut dalam buaian nada-nada illahi yang menggetarkan jiwa. Dan hanya insan yang punya telinga dan rasa yang dapat terhanyutkan olehnya.

Umi masih terbaring, ditunggui Bu Arumi yang tampak asyik membaca koran Radar Majalengka. Seketika matanya terbelalak manakala nama Mahasiswanya tercantum di Headline berita. Ya, nama mahasiswa tersebut adalah Muhammad Fahrul Abdullah. Setelah jiwanya ditikam rasa kaget, tiba-tiba Bu Arumi mendengar suara lirih menyebut-nyebut nama Fahrul.

“Fahrul. . . Fahrul. . .!”

Bu Arumi langsung menghentikan bacaannya, walaupun rasa kaget masih menghantuinya. Kedua mata Umi masih merem, tapi bibirnya tampak bergerak dan bergetar,

“Fahrul. . . Fahrul. . .!” lirih umi.

“Alhamdulillah, umi fahrul mulai sadar.” Bu Arumi meletakkan Koran dan langsung mendekat ke samping Umi.

Perlahan kedua mata Umi terbuka. Kelopak matanya digenangi air mata yang masih berlinang. Sesaat kedua mata itu terbuka dan umi seperti belum sepenuhnya sadar. Begitu umi melihat perempuan asing di hadapannya, umi sepenuhnya sadar tidak berada di gubuk rumahnya bersama anaknya, Fahrul.

“Si.. Siapa kamu?! Di.. Dimana Fahrul?”

“Ssstt.. Tenang, Mi, jangan bergerak dulu dan jangan banyak bicara dulu. Alhamdulillah Umi sudah siuman setelah tak sadarkan diri hampir dua puluh empat jam.” Jawab bu Arumi memandang teduh pada Umi.

“Aku sakit?”

“Iya.”

“Sakit apa?”

“Nanti juga dokter akan menjelaskannya pada Umi.”

“Emmm. . . Siapapun engkau, tolong bawa aku ke anakku, Fahrul!”

“Tubuh Umi masih sakit. Tubuh umi pun punya hak, umi harus istirahat yang cukup. Kalau umi maksa, nanti sakit lagi.”

“Aku tidak merasa sakit!”

“Umi masih sakit, perlu istirahat.”

“Ah, Aku tidak sakit. Aku ingin bertemu sama anakku, aku bisa bangkit.” Umi mencoba bangkit. Tapi baru beberapa senti dia bergerak kepalanya mendadak pusing. Umi coba lagi, masih dengan keadaan yang sama. Anggota tubuhnya tak bisa bergerak seakan mengkhianatinya.

“Masih sakit kan.” Akhirnya Umi pasrah dan kembali tertidur di ranjang penderitaan.

“O ya, perkenalkan, Saya, Arumi Husnul Khatimah. Dosen Matematika sekaligus dosen pembimbingnya Fahrul. Dia sudah cerita banyak tentang Umi, dan Aku pun salut sama anak itu, dia sosok anak yang berbakti, cerdas, berprestasi dan taat dalam beragama. Umi patut berbangga punya anak sepertinya.”

“Alhamdulillah, tapi tolong, kalaupun aku tidak bisa berjumpa dengan fahrul, anda bisa memberi tahu di mana fahrul sekarang, aku rindu dengan dia.”

“Fahrul. . .” bu Arumi menyeka percakapannya.

“Iya, anakku, sekarang di mana?”

Bu Arumi bangkit dan mengambil Koran Radar Majalengka lalu membentangkan headline berita itu ke wajah Umi. Setelah mengeja setiap kata yang tertulis di headline berita tersebut, wajah umi seketika beku, putih pasi. Dan matanya kembali terpejam. Bu Arumi curiga, Ia menggoyangkan Umi dan membangunkannya. Tapi tubuh itu tetap diam.

“Semestinya tadi itu aku tidak menyodorkan berita itu, harusnya aku diam atau kalau mau menjawab, aku jawab, aku tidak tahu. Kalau pun tetap maksa, aku panggil saja dokter untuk segera menyuntikkan obat tidur untuknya. Ah, kamu ini Mi, tidak bisa berpikir jauh seperti itu.” Bu Arumi menarik nafas panjang. Dokter Ali datang.

“Dia sudah pernah siuman? Atau masih seperti ini sejak pagi?”

“Tadi dia sadar, sebentar, lalu kembali lagi seperti ini.”

“Tadi kapan?”

“Lima menit yang lalu?”

“Kenapa anda tidak memanggil saya?”

“Saya tidak tahu kalau harus memanggil dokter.”

“Saya lupa memberi pesan. Tapi saya sudah sampaikan ke perawat. Apa tidak disampaikan pada anda?”

“Tidak.”

Dokter Ali memeriksa kening dan alat infus Umi. “Tidak demam, cairan infusnya pun masih cukup. Saya tinggal dulu. Nanti kalau dia bangun lagi, anda tekan tombol itu tiga kali.”

“Insya Allah, dokter.” Dokter muda berjenggot tipis dan berjambang lebat itu meninggalkan kamar 601.

“Mi, maafkan aku yang membuatmu kembali tak sadarkan diri.” Bu Arumi melirik ke arah jarum jam, waktu Isya tinggal sepuluh menit lagi. Ia bergegas ke kamar mandi, lalu wudhu dan menegakkan Shalat Maghrib. Dalam do’a nya Ia berdo’a agar Allah memberikan kesembuhan pada umi dan dipertemukan dengan anaknya dalam suasana haru berlimpah barakah.

****
Ternyata polisi misterius itu bukanlah polisi yang sebenarnya, melainkan orang suruhan roy, hal itu terendus setelah leherku dipukul di dalam mobil kemudian kedua mataku ditutup dan mulutku dibungkam oleh lakban hitam. Pukulan pada leherku mengakibatkan aku tak sadarkan diri beberapa lama.

Roy adalah laki-laki yang menaruh benci padaku. Dia satu kampus dan satu jurusan denganku. Dia benci padaku, karena menurutnya, aku dianggap menjadi penghalang dalam mendapatkan cinta Hiyalatil Aura. Sosok wanita yang begitu santun, lembut perangainya dan indah tutur katanya. Sedangkan hiyalatil menaruh rasa padaku, begitupun aku, sama sepertinya. Namun aku dan hiyalatil saling mendiamkan perasaan tersebut, hanya untaian senyum yang bisa aku layangkan padanya, ketika kami tak sengaja berpapasan di gerbang kampus dengan langkah cepat namun hati menderu. Aku menyebut rasa itu padanya, yakni cinta dalam diam. Diam yang menerbangkan do’a. Dan diam yang menerbitkan amanah Illahi.

Azan Isya berkumandang, Bu Arumi menegakkan shalat, sedangkan Umi masih hanyut dalam mimpinya. Tak sadarkan diri. Dan Allahu Akbar kuasa Allah menyelimuti kamar 601, mata Umi perlahan mengerjap lantas terbuka, saat Bu Arumi membisikkan kalimat Laa Haula Wa Laa Quwwata Illabillahil ‘Aliyil ‘Adzhim ke telinga kanan Umi. Seperti di awal, umi hanya mengucapkan “Fahrul… Fahrul dan Fahrul.”

Dengan tenang Bu Arumi menjawab, “sekarang Umi jangan memikirkan apa-apa, istirahat saja yang cukup. Nanti kalau Umi sudah cukup istirahatnya, Saya akan ceritakan di mana Fahrul berada. Sekarang, umi istirahat dulu, kumpulkan energi terlebih dahulu.”

“Tapi, aku belum shalat Isya. Dzuhur, Ashar dan Maghrib pun aku ketinggalan. Sekarang, aku ingin qadha semuanya. Ijinkan Aku shalat terlebih dahulu. Aku janji, setelah shalat akan istirahat.”

“Tapi kan berlaku keringanan shalat buat Muslim/ah yang lagi sakit Mi.”

“Keringanan, bukan berarti meninggalkan shalat kan?” Bu Arumi mengangguk, tanda mempersilahkan.

30 menit kemudian, Umi selesai menegakkan shalat dengan cara berbaring dan cara bersuci tayamum. Sejurus kemudian, matanya terpejam, menandakan Umi istirahat.

“Alhamdulillah, semoga esok hari keadaan umi makin membaik. Dengan izin Allah. Aamiin,” gumam bu Arumi menatap bola mata Umi yang kian sayup dibelai angin malam.

****
Ketika sadar, Aku mendapati diriku terikat di atas kursi dengan tangan terikat ke belakang, mulut dilakban dan kaki terikat. Alangkah kagetnya Hiyalatil Aura ada di sampingku, tepat tiga meter dariku. Air mata Hiyalatil meleleh ke permukaan wajah. Bola matanya menyinarkan kesedihan.

Aku mengamati sekeliling di mana aku dan hiyalatil ditangkap. Kanan-kiriku tempok batu warna hitam dongker. Ruangan itu lembab, langit-langit ruangan seperti gua, pengap, dengan berhias sarang laba-laba yang mengerayap. Hanya lampu kuning lima watt yang menerangi. Aku dapat pastikan bahwa ruangan itu, ruang bawah tanah.

Roy keluar dari persembunyian, diiringi kedua langkah dari anak buahnya, Uday dan Cuplis. Roy mendekatiku dengan badan yang membusung serta wajah yang angkuh, Dia menghantam mukaku begitu kuat.

“Ah!” desisku menahan sakit yang luar biasa. Wajahku seperti tersambar petir. Hidungku berdarah. Hiyalatil meronta dan menjerit-jerit melihat apa yang dilakukan Roy padaku.

Dengan nada geram, Roy memberi perintah pada cuplis, “buka lakban mulutnya. Aku ingin dengar apa yang dia katakan!” Cuplis membuka lakban yang mengunci mulut Hiyalatil.

“Roy, kumohon jangan sakiti dia. Jangan apa-apakan dia. Dia tidak salah apa-apa. Cintamu diliputi kedustaan. Cintamu membutakan mata hati dan akal sehatmu. Seharusnya wujud cinta bukan melukai, melainkan mendatangkan ketenteraman dan kedamaian. Kau sudah salah menafsirkan cinta. Lepaskan dia! Biarkan dia pergi. Dan Aku ikhlas menjadi pendampingmu. Tapi aku mohon, lepaskan dia. Aku mohon roy!” jerit Hiyalatil penuh harap.

Roy tertawa penuh kemenangan. “Senang sekali aku mendengarnya. Kau begitu menyayagi laki-laki ini, apa hebatnya dia di matamu? Sehingga Kau begitu mencintainya? Apa Kau tak pernah sadar bahwa Aku mencintaimu. Aku tersiksa memahami makna cinta darimu. Dan sekarang, terimalah akibatnya, akibat Kau mengacuhkan cintaku. Biarkan aku dikatakan gila atau apa, yang penting hasratku untuk meleyapkan laki-laki bajingan ini tuntas!”

Roy kembali mendekatiku yang hampir setengah mati. Aku mencoba mengatur nafasku. Dan dengan kemarahan yang kesetanan, Roy menghajarku habis-habisan dengan rantai besi. Terakhir, Roy menendangku sampai terjengkang ke balakang, ketika Aku mencoba bangkit, wajahku kembali disambut dengan hantaman kaki dari Uday dan Cuplis. Darah dari mulutku muncrat ke udara. Hiyalatil kembali menjerit-jerit memohon pada Roy agar dia tidak membunuhku. Namun roy tidak mengindahkan jeritan dan permohonan dari hiyalatil.

Setelah ditendang, aku ditengkurapkan oleh cuplis dan uday lantas tanganku diikat ke belakang. Si cuplis membuka lakban di mulutku. Uday mengeluarkan ganco tajam dari plastik hitam. Dengan wajah berkabung kesumat, Roy menancapkan ganco itu pada daging betisku. Si cuplis lalu mengambil tali dan diikatkan pada pangkal ganco, si uday mengambil kursi yang aku duduki. Dengan berpijak pada kursi itu dia memasukan tali pada kayu yang melintang di langit-langit ruangan lantas menariknya. Begitu tertarik, kakiku pun perlahan tertarik. Si uday terus menarik dan badanku terangkat, dengan kaki di atas dan wajah di bawah. Darah segar kembali menetes. Mukaku kayak aspal, tak berbentuk. Apalagi kakiku yang tertusuk ganco ikut mengalirkan darah. Sementara Hiyalatil menangis melihat kondisiku.

Kedua tangan Roy memegang pistol dengan mulutnya meniup-niup pucuk pistol. “matilah Kau!”

“Aku mohon, jangan lakukan itu Roy!!! Jangan bunuh Fahrul, Aku mohon!” jerit Hiyalatil semakin membara.

“Hey Bangsat! Apa kata-kata terakhir yang ingin Kau sampaikan pada Hiyalatil, sebelum pelor pistol ini menghujami otakmu yang bajingan itu!”

“Hidup dan matiku ada di tangan Allah, bukan di tanganmu!”

“Sialan, nantang ya Kau! Rasakan ini!” ketika tangan roy hendak menembakkan pistol, tiba-tiba “Dooorr” Roy ambruk seketika. Dengan kepalanya mengucurkan darah. Ternyata para polisi yang menembak roy dari belakang, tembakan itu sangat akurat. Pelor itu tepat mengenai saraf otak roy, sehingga roy langsung tewas di tempat. Sementara uday dan cuplis langsung mengangkat tangannya dan pasrah digelandang polisi. Hiyalatil tersenyum hangat, manis sekali melihat Roy tewas dan dua bajingan lainnya ditangkap polisi.

Di belakang polisi, ada dua bidadari yang tidak asing lagi untukku. Mereka adalah Umiku dan Bu Arumi. Dengan sigap para polisi melepaskanku dan aku pun terlepas dari jerat derita yang hampir membuatku sekarat. Umi dan Bu Arumi mendekat ke arahku dan keduanya bergantian memelukku begitu erat. Kehangatan surga yang hilang, kini kembali kurasakan. Aku melirik ke kanan, di sana ada Hiyalatil Aura yang tengah tertunduk dengan air matanya yang meleleh. Aku tersenyum padanya, dia pun menjawab senyumanku. Indah sekali. “Astaghfirullah” ucapku setelah memandangnya.

Ketika kesenangan dan kegembiraan meliputi jiwa dan ragaku, tiba-tiba ulu hatiku mendadak sakit. Sakit sekali. Aku pegang lalu meremas-remas perutku, dan tiba-tiba aku ambruk karena kakiku yang belum kering tak bisa menopang badanku terlalu lama.

Umi, Bu Arumi, Hiyalatil dan para polisi yang masih ada di tempat langsung panik melihat keadaanku yang berubah drastis. Umi mengangkat badanku dibantu para polisi dan meletakkan badanku di pangkuan umi.

“Kenapa kamu rul? Katakan sama Umi, ada apa dengan dirimu? Kenapa bisa begini?” pertanyaan dari Umi layaknya hujan yang terus menghujam.

“Mungkin ini efek dari penyiksaan roy waktu tadi. Mi, fahrul tidak kuat lagi menahan rasa sakit ini. Izinkan fahrul mengucapkan, bahwa fahrul cinta Umi, cinta bu arumi dan aku pun. . . . men. . . mencintai dengan setulus hati pada sosok perempuan yang ada di samping umi.” Umi dan bu arumi memandang orang yang dimaksud fahrul. Mereka berdua tersenyum.

Hiyalatil tersipu malu dengan ungkapan dari fahrul, namun isakkannya tak bisa dibendung. “Aku juga cinta Mas Fahrul dengan setulus hati hiya. Hiya ikhlas, ridha menjadi pendamping Mas Fahrul dalam menjalankan sunah Nabi Kita dan menggenapkan Agama Kita.”

Umi dan Bu Arumi saling menatap dan melempar senyum, “Iya rul, kami berdua juga mencitai fahrul karena Allah, dengan setulus hati kami. Tapi, kamu harus kuat rul, harus kuat!” jawab keduanya berbarengan.

Ukiran senyum dariku menjawab semua ungkapan cinta dari ketiga bidadari hidupku. Umi, Arumi dan Hiyalatil. Dan untuk umi, aku persembahkan SENYUM TERAKHIR UNTUK UMI. Tetaplah menjadi bintang di hatiku Mi, walaupun alam memisahkan kita berdua. Perjuanganmu akan abadi bersama surga-Nya yang merindukan sosok sepertimu. Abi, sebentar lagi Kita akan bertemu dalam Rumah Baru Kita, yakni Surga-Nya Allah SWT.

Setelah senyuman itu aku persembahkan, malaikat izrail meminta izin padaku, bahwa waktuku di dunia sudah habis. Dan aku pun pasrah jikalau jiwaku harus terlepas dari raganya. Setelah jiwaku melayang bersama izrail. Ketiga bidadari itu menangis menyaksikan jasadku diam, tak bisa megusap air mata mereka.

TAMAT!

EPILOG

Sebelum Umi dan Bu Arumi berangkat menuju tempat penyekapanku, sebelumnya aku sudah mengirimkan sms pada bu arumi, saat aku masih digelandang, dan aku menanyakan pada uday, aku akan dibawa ke mana, mungkin dia keceplosan mengatakan, bahwa aku akan dibawa ke maja, di ruang bawah tanahnya. Aku kaget dan uday melihat kekagetanku langsung meralat perkataannya, bahwa aku akan dibawa
ke lapas sukaraja.

Saat itu aku langsung mengiriman sms singkat pada bu arumi, bahwa aku akan disekap di maja, di ruang bawah tanahnya. Dan Alhamdulillah, Allah tepat melungsurkan pertolongan-Nya padaku, walaupun pada akhirnya suratan takdirku harus berakhir di ruang bawah tanah itu, aku rela. Karena aku bisa dipertemukan oleh-Nya dengan ketiga bidadari yang menjelma manusia. Sungguh hal itu yang menjadi episode bahagia buatku. Dan untuk headline berita di Radar Majalengka, itu fitnah belaka. Berita itu sengaja Roy propagandakan agar niat busuknya berjalan mulus, yakni memfitnahku bahwa Aku terlibat dalam sindikat narkoba dan sekarang menjadi buronan polisi. Serta penangkapanku di kamar 601 dengan dalih umiku berbuat salah dan memendam benci padanya, itu juga guliran fitnah yang dipropagandakan roy.

Serta untuk hiyalatil, insya Allah, Kau akan aku pinang dalam Mihrab Surga-Nya. Untuk bu arumi, akan aku jadikan kau dosen abadiku di surga. Dan untuk umiku, aku akan berbisik pada-Nya agar kita dapat bersatu kembali dalam Naungan Cinta-Nya. Dan di sini, aku akan senantiasa tersenyum mengamatimu dalam tirai keabadian.

Selamat jalan, Umi. Jangan bersedih, tetaplah tersenyum. Dan ini-lah yang fahrul maksud, SENYUM TERAKHIR UNTUK UMI. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hamba Allah yang fakir akan ilmu, miskin akan amal, dan lancang mengemis Ridha-Nya dengan maksiyat dan dosa. #NovelisMuda

Pujangga Belantara

Info Lomba Menulis

Follow Me