Index Labels

MUAK!

Posted by Ucu Supriadi

Ini tentang rumah-rumah yang bangsa kera hancurkan
Tanah-tanah meratap berpindah tuan
Bahkan manusia yang dibuldoser
Ditembaki melalui tank baza
Dijatuhi bom lewat udara
Dunia bisu, dunia diam
Tatanan PBB di bawah ketiak kera!
Koalisi Arab tunduk pada durjana!

Ini juga tentang seorang ibu
yang memasak air dan batu
Menidurkan sang anak di bawah hujan peluru
dengan selimut tebal pasir dan abu
Masih tentang ratusan anak-anak
yang kini tak lagi berbapak

Tentang ibu mereka yang diperkosa bagai binatang
Lalu diseret ke penjara dan disiksa
Dengan tangisan darah
mereka berkata "Di mana HAM?"
Dengan lugu kera berkaca pinggang
HAM bukan untukmu, bung!

Bulsit HAM!
Omong kosong Hak Azazi!
MUAK!

Setiap kali baca berita
yang ada hanya kekacauan
Korupsi
Saling sikut
Perzinahan
Bedebah cukong kapitalis
Menyeret mapia hukum
Menistakan perempuan milenium
dengan dalih basi referendum!
Monopoli pers kelabui makna subjektif teror
Jengah dengan semua ini
MUAK!

Jari-jemari ini liar tak terkendali
Menulis kritikus memuakan
Bermuka dua
Berwajah culas
Hipokrit!
Muncul pertanyaan yang mesti dijawab
Apa yang terjadi ketika sebuah negeri dipimpin begundal politik?

Sebuah tatanan yang nyaris ambruk
Kecuali berjalan di atas ancaman teror
dan akrobat sulap penuh tipuan yang berulang kali
Hampir tiada henti!
Demokrasi dunia para pelacur Lucifer
Eksklusifitas infiltrasi teritorial Freemansonry
Genetika penglaris katalog darah
Bagi tanah para nabi yang terjajah

Dar...der...dor....
Sekali, dua kali, tiga kali
Rakyat masih terkaget
Kini, mereka sudah terbiasa
Tak ubahnya menyaksikan dagelan ketoprak berjudul demokrasi
Kadang tertawa, senyum atau sekedar menghela nafas
MUAK!

Hahaha…
Ketika kejahatan itu terkuak
Mereka rame-reme berusaha tuk tutupi
Dengan gagah mereka membantah
Tak ada malu!
Malah dengan suara lantang mereka seolah menantang
“Mana buktinya? Ini negara hukum, bung!”

Ketika indikasi tindak pidana korupsi itu kian menguat
Mereka seolah tak pernah kehilangan semangat
Mengelit bagai ular
Menjengkelkan!
Kata-kata mulia seolah keluar dari mulut yang culas
“Mohon hormati asas praduga tak bersalah!”

Sebuah permohonan yang nyaris dianggap sepi
Hampir tak berarti
Anggaplah hanya angin lalu yang tak berbekas
Sebuah sikap yang memelas dari para pelaku culas
Awas! Sinisme kian merebak dengan aroma yang kian pedas

Dasar politisi tukang kibul!
Masih saja bau busuk itu hendak ditutupi
Ada dramaturgi apalagi?
Pencitraan kembali menjadi ideologi
Kata-kata mantera pun kembali diucapkan
“Siapapun dia, mau kader partai atau bukan, kedudukannya sama di hadapan hukum!”
Abrakadabra... Preeeeettt!
Keadilan?
Kehormatan?
Bicara hukum?
Halah kadaluarsa!
Ini alam kapitalis, bung!
yang kuat bertahan
yang lemah injak!
MUAK!

Puih!
Bosan mendengar semuanya
Rakyat butuh bukti, bukan janji!
Rakyat masih terngiang jelas
Kini menagih janji
Mana teriakanmu yang berulang-ulang di mikropon?
yang kau sebar juga di selembaran

“Pilih No. 1, Rakyat Sejahtera!”
"Saya jadi penguasa, korupsi akan dibasmi!"
"Pemerintahan kami, bebas miskin!"
"Pilih saya, koruptor akan dipenggal!"
"Partai kami, partai rakyat!"

Hahaha...
Rasanya ingin kuulangi dagelan itu
Saksikan iklan politik yang sangat kreatif
Adakah yang salah?
Ada!
Mereka pembual ulung!
Mungkin rakyat yang terpana
Terbius oleh rekayasa citra
Nyatanya tak lebih dari dagelan mandul
Dagelan para begundal politik
yang tak jera merampok uang rakyat
Menjarah sumber daya!
MUAK!

Indonesia adalah surganya para begundal
Hampir tak terjamah
Di luar sana
Mereka saling sikut
Akankah besok mereka saling bunuh?
Persetan urusan rakyat
Asalkan perut buncit
dan syahwat di penghujung nikmat

Yuyun yang malang
Pelajar bunuh pelajar
Anak ingusan jadi bapak
Koko sang predator birahi
adalah hal wajar di alam kapitalisme
yang Demokrasi sebagai biang keladi
Sekali lagi Aku ingin katakan pada penyembah dunia
Pemuja kebebasan
dan pembela ideologi kera
MUAK!

Ucu Supriadi
Cirebon, 18/05/2016

3 komentar:

  1. izin share ka, celotehannya bikin merinding... salam perpisahan untuk demokrasi kapitalis yang menjijikan dan untuk para pemuja serta penjilat kekuasaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan. Alhamdulillah, semoga dapat menginspirasi. Allahumma Aamiin

      Hapus
  2. Satu lagi, tepatnya bukan celoteh, tapi puisi. Karena isi celoteh dengan puisi berbeda

    BalasHapus

Hamba Allah yang fakir akan ilmu, miskin akan amal, dan lancang mengemis Ridha-Nya dengan maksiyat dan dosa. #NovelisMuda

Pujangga Belantara

Info Lomba Menulis

Follow Me