Index Labels

Salah Satu Fragmen Cinta Dalam Diam

Posted by Ucu Supriadi
"Cinta hadir dengan segala pesonanya. Mendiamkannya adalah pilihan terbaik menjaga masa depan. Meskipun harus menantinya di ujung tanda tanya.”

….. Esoknya, Hasan dan kelima temannya harus berangkat lagi ke kota Jakarta, tempat mereka tinggal dan memulai kembali aktivitas belajarnya, di Universitas Indonesia.

Setelah sarjana di tangan, Hasan hendak kembali ke Desa Jodoh Mulya untuk meminang perempuan yang telah menawan hatinya, Azzahra Khoerunnisa. 

Pagi buta, sebelum ia pergi meninggalkan desa Jodoh Mulya, hasan menitipkan sepucuk surat terbungkus amplop biru pada lilis, tetangga terdekat zahra.

Selepas pulang sekolah, Lilis bergegas ke rumah Zahra. Hendak menunaikan amanah yang dibebankan padanya. Lilis mengetuk pintu, Zahra yang membuka. Terjadi dialog singkat, basa-basi. Setelah amanah tersebut selesai ditunaikan, lilis kembali ke rumah, hendak mengajar di salah satu madrasah yang ada di kampungnya. 

Dalam rumah, Zahra terpatung. Membatin dengan apa yang ada di isi surat tersebut. Perlahan ia buka surat dari Hasan. Dengan gumam, ia membacanya.

“Perempuan, datang atas nama Zahra....
Tangan ini mula menulis apa yang telah dirangkai oleh hati ini di dalam qolbu. Aku mulai tertanya-tanya, adakah Aku sudah seharusnya mula mencari sebagian dariku yang hilang. Bukanlah niat ini disertai oleh nafsu, tetapi atas keinginan seorang muslim mencari sebagian agamanya.

Acap kali Aku mendengar bahwa ungkapan “Kau tercipta untukku”. Aku awalnya kurang mengerti apa sebenarnya arti kalimat ini, karena diselubungi jahiliyah.

Rahmat dan hidayah Allah yang diberikan kepada diriku. Kini Aku mengerti bahwa pada suatu hari nanti, Aku harus mengambil satu tanggung jawab yang sememangnya diciptakan khas untuk diriku, yaitu dirimu.

Aku mulai mempersiapkan diri dari segi fisik, spiritual dan juga intelektual untuk bertemu denganmu. Aku menginginkan pertemuan kita yang pertama Aku kelihatan sempurna di hadapanmu. Walaupun pada hakikatnya masih banyak lagi kelemahan dalam diri ini.

Aku coba mempelajari arti dan hakikat tanggung jawab yang harus Aku gali ketika dipertemukan dengan dirimu. Aku coba membataskan pembicaraanku dengan gadis lain yang hanya dalam lingkaran urusan penting. Karena Aku risau untuk menceritakan rahasia diriku kepadanya. Karena seharusnya engkaulah yang harus mengetahuinya, karena dirimu adalah sebagian dari diriku.

Apabila diriku memakai kopiah Aku digelar Ustadz. Apabila diriku diselubungi jubah digelar Syeikh, dan Lidahku mengajak manusia ke arah Makruf digelar Da’i. Bukan itu yang Aku pinta. Karena Aku hanya mengharapkan keridhaan Allah SWT.

Yang Aku takuti. Diriku mula didekati oleh wanita karena perawakanku dan perwatakanku. Baik yang indah berhijab atau yang ketat berbaju. Semuanya singgah di sisiku.

Aku risau imanku akan lemah. Diriku tak dapat menahan dari fitnah ini. Karena melalui lisan Rasulullah SAW telah mengingatkan : 

“Aku tidak meninggalkan setelahku fitnah yang lebih bahaya untuk seorang lelaki melainkan wanita”.

Aku khawatir amalanku bukan sepenuhnya untuk Rabbku, tetapi untuk makhluk-Nya. Aku memerlukan dirimu untuk menghindari fitnah ini. Aku khawatir kurangnya Ikhlas dalam ibadahku menyebabkan diriku di campakkan ke Neraka, dan meninggalkan kau seorang diri di Surga.

Aku berasa bersalah kepada dirimu, karena khawatir cinta yang haq dari-Nya akan ku curahkan kepada wanita lain. Aku sukar untuk mencari dirimu , karena dirimu bagaikan permata hijau diantara ribuan kaca menyilau.

Tetapi Aku yakin pasti! Jika namamu yang ditulis di Lauh Mahfudz untuk diriku. Niscaya rasa cinta itu akan Allah tanamkan dalam diri ini.

Tugas pertamaku bukan mendapatkanmu, tapi mensolehkan diriku. Sukar untuk mencari solehah seperti dirimu, andai Solehku tidak setanding dengan kesolehanmu.

Janji Allah pasti ku pegang dalam tujuan mulia menghalalkanmu. “Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik”. Begitulah lagi-lagi Allah berbicara tentang jodoh.

Jiwaku ini mula meracau mencari cinta. Matang kian menjelma dan kehadiran wanita amat terasa untuk berada di sisi. Setiap kali Aku merasakannya Aku mengenang akanmu.

Entahlah… apakah kau memiliki perasaan yang sama, atau tidak. Yang jelas, di sini Aku takut, andai Aku curang kepadamu sebab bermain Cinta Fatamorgana.

Sampaikan do’amu yang terhulu pada bilik rindu, agar Aku dapat menjawabnya di  hilir penantian. Disamping Aku juga mengajukan sendiri bait do’a diperlindungi diri. Karena cinta hadir dengan segala pesonanya. Mendiamkannya adalah pilihan terbaik menjaga masa depan. Sekalipun harus tertatih di ujung tanda tanya.

Zahra…bukan harta, rupa dan keturunan yang Aku pandang dalam penantian menjawab rindu. Cukuplah agama sebagai pengikat kasih diantara dua hati. Saat dimana Aku bakal melamarmu. Akan ku lihat wajahmu sekilas. Agar mencipta keserasian, karena itu pesan Nabi kita.

Tidak perlu alis mata seakan alis mata unta. Wajah bersih seakan putih telur, ataupun bibir merah bak merah delima. Tetapi cukup aqidah sekuat akar, Ibadah sebagai perisai dan Akhlaq seindah budi. Karena Rasulullah telah berpesan :

“Nikahilah istrimu karena empat perkara. Pertama, keturunan. Kedua, harta. Ketiga, rupa. Keempat, Agama. Bila kamu memilih Agama, engkau tidak akan menyesal”

Bila Allah berkehendak, setelah Aku resmi menyandang gelar sarjana. Akan ku jaga perasaan kasih ini supaya tidak tercurah sebelum masanya. Islam sebagai pendinding diri. Akad nikah sebagai bukti dari cinta. Bukan pacaran seperti pemuda labil masa kini.

Biarlah kita mengikuti jejak nenek moyang kita, Nabi Adam dan Siti Hawa yang tetap menunggu walaupun dipisahkan jurang tanda tanya. Agar kita dapat menikmati kenikmatan pernikahan, yang menjanjikan ketenangan jiwa, ketenteraman hati dan kedamaian batin.

Do’akan diriku, agar tak berputus asa dicelah bilik rindu, tersesat di jalan panantian, pupus diterjang jarak dan waktu. Karena Aku memerlukan engkau, untuk melengkapi sebagian agamaku.

Aku mencintaimu karena agama yang ada pada dirimu. Jika engkau hilangkan agama pada dirimu, maka hilang sudah rasa cintaku padamu. Biarlah sekarang surat ini menjadi bukti, bahwa penantian tak sesakit dibilang orang.

Dari laki-laki yang belajar shaleh,

Hasan al Rasyid.

Zahra tutup surat tersebut dengan hati tak menentu. Ia mendelik gusar akan suasana hatinya. Ia pegang hati berkali-kali, memastikan bahwa hatinya masih ada. Tidak terbang bersama bayangan Hasan yang gentayangan di atas halusinasi. Di bawah ranjang, sajadah membentang. Ada bisik kecil merayunya untuk mendekat. Seakan sajadah itu berbicara, bahwa dekati Dia yang mencipta rasa di hati kedua insan.

Untuk selengkapnya, bisa baca di novelnya langsung ya... :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hamba Allah yang fakir akan ilmu, miskin akan amal, dan lancang mengemis Ridha-Nya dengan maksiyat dan dosa. #NovelisMuda

Pujangga Belantara

Info Lomba Menulis

Follow Me