Index Labels

Senja di Matamu (Episode 3)

Posted by Ucu Supriadi
Duhai Ayah… Bolehkah kupinjam sejenak waktumu di surga sana?
Ayah, apakah benar-benar ada?
Aku menjadi bermakna 
bukan ketika ayah menghampiriku
Tapi aku merasa sudah bermakna 
sejak berharap ayah menghampiriku
Karena apa yang lebih bermakna dalam hidup 
kecuali harapan…

Matahari pernah bercerita pada rembulan
bahwa senja adalah pesona langit
Matahari keliru
Senja bukanlah pesona
tapi pendita rindu
Karena langit tak mampu
mempertemukan senja dengan rembulan
Langit hanya bisa
mempertemukan matahari dengan senja
Tidak dengan rembulan
Dan rembulan yang malang itu
adalah aku…

Rabb…
Aku merasa ada yang hilang
Tanpa tahu apa yang sudah aku temukan
Aku merasa menemukan
Tanpa tahu apa yang tengah aku cari
Aku seperti sedang mencari
Tanpa tahu apa yang harus aku temukan…

Oh langit…
Sampaikan pada senja
Aku menunggunya di waktu malam
Apa aku gila?
Aku waras
Aku hanya berbisik pada langit
Bahwa harapan tak selamanya berliku
Harapan selalu menemui buntu
Antara menerima kenyataan 
dan terjatuh dalam jurang penantian…

Ayah…
Aku menemukan senja begitu indah
Bukan terlukis di atas langit
Bukan pula merangkai sore
Tapi senja terbit di wajahmu
Dan tenggelam di ufuk matamu…

Duhai Ayah…
Bolehkah kupinjam sejenak waktumu di surga sana?

Tap! Buku diari ditutup. Ibu vira menahan tangis. Kembali sesegukan. Ia seperti berjelaga dalam labirin tak berujung, yang kandungan oksigennya setipis batas antara harapan dan kenangan. Sesak. Membaca bait demi bait puisi anaknya. Haru biru.

Faidah, ibunya vira mengintip malam dibalik cela jendela. Langit kembali temaram tanpa rembulan. Entah langit menyembunyikannya di mana. Yang jelas, langit malam hanya berteman noktah bintang yang terus berkerlap-kerlip sendu. Memberi isyarat pada bumi, bintang gemintang pun turut dirantai rindu pada sang rembulan. Langit pun demikian. Seketika hujan membasahi bumi.

Hujan… menurut orang-orang adalah satu momen yang mengingatkan mereka pada masa lalu. Apakah demikian? Ternyata benar. Hujan malam itu menyeret Faidah ke masa lalu. Satu momen di mana suaminya, ayah vira, menjadi korban jatuhnya pesawat adam air tahun 2007 silam. Yang sampai kini, peristiwa tragis itu masih menyimpan tanda tanya. Entah ada drama apa dibalik jatuhnya pesawat tersebut. Ia tidak tahu. Ia sudah ikhlas atas takdir suaminya.

Sebelum suaminya meninggal. Munir, sang suami sudah berpesan pada faidah, bahwa ia akan pergi bersama sang istri ke tanah haram, mekkah, menunaikan rukun Islam yang kelima. Bahkan perut buncit yang di dalamnya ada vira, sempat oleh munir dikecup begitu mesra sembari lantunan do’a Nabi Ibrahim dihembuskan. “Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” Faidah turut mengamini.

Sedetik kemudian, Munir melihat istrinya, ia tersenyum sambil menyela air mata Faidah dengan jari telunjuknya. “Sayang, jaga terus cinta kita. Hiasi penantianmu dengan do’a. Bila takdir mengingkari kenyataan… yakinlah… di sana ada keindahan surga untuk para penikmat rindu. Satu lagi, besarkan buah cinta kita dengan al-Quran dan as-Sunnah. Sayang, aku mencintaimu karena Allah. Sampai kapanpun, kau adalah ainul mardiah untukku.” Setelahnya, kecupan mesra seorang suami mendarat di bibir sang istri, faidah. Sungguh pemandangan yang sangat romantis dan dramatis, mencipta cerita di bawah rinai hujan. Tak mampu terlukis oleh pena. Tak sanggup terjabar oleh kata.

Masa lalu masih asyik menyedot alam bawah sadar Faidah. Sedetik kemudian, Azan subuh berkumandang. Ia terperanjat. Mengusap matanya yang tampak bengkak. Ia melihat jam, langsung bergegas menuju kamar mandi. Bersegera menunaikan titah langit, perintah Rabb Semesta Alam. 

Sajadah ia gelar, membentang di samping pembaringan anaknya. Mulutnya terus komat-kamit mengidungkan satu tembang dari surga. Sebelumnya ia awali dengan shalawat, tasbih, tahmid dan kalimat thayyibah lainnya. Agar Allah membuka pintu maaf untuk hamba-Nya. Membuka pintu pengabulan bagi setiap permintaan hamba-Nya. Dalam ribuan pintanya, ada satu tanya yang mendesah panjang dari kerongkongan. “Tuhan, di mana Kau tidurkan sang rembulan? Apa Kau tenggelamkan di langit senja?”

***

“Apakah anda mempunyai rekaman suara dari suami anda?” ucap dokter syam dengan alis berkerut. Faidah menggeleng.

Dokter syam menggigit bibir. “Anda tahu hal apa yang teramat vira sukai?” Faidah mengangguk.

“Apa itu?”

“Senja.”

“Senja…???” dokter syam melipat dahi.

“Iya, senja. Vira suka sekali senja. Menurutnya, senja adalah segalanya. Bahkan ia ingin sekali seperti senja. Dirindukan karena keindahannya, ditangisi sebab kepergiannya.”

“Kau punya solusi, dok?” tanya Faidah kemudian.

Lorong rumah sakit begitu panas. Uap mentari menerobos ke pori-pori kulit. Jam menunjukan pukul satu siang. Di samping ruangan, ada sosok perempuan yang menjerit, matanya terbelalak menahan sakit. Keringatnya membanjari wajah, tangan dan tubuhnya. Tangannya  erat memegang ranjang. Di sampingnya ada seorang lelaki yang tengah memegang tasbih, melantunkan zikir Illahi. Sedangkan tangan kiri lelaki tersebut memegang erat jari jemari perempuan yang ada di hadapannya. Tak lain, pemandangan yang tengah Faidah saksikan adalah proses melahirkan yang sangat luar biasa. Faidah merenung, hatinya berbisik kagum. “Duhai… begitu mulianya perempuan. Mengandung, melahirkan, menyusui dan menyapih. Sungguh tepat bila Islam menempatkan surga ada di bawah telapak kakinya. Ibu, terimakasih atas jasamu. Engkaulah matahari kehidupanku.”

“Hey… anda dengar ucapanku barusan?” dokter syam membuyarkan lirih hati Faidah. Faidah kaget bukan main.

“Oh maaf dok, tadi saya lagi tidak fokus. Bisa kau ulangi?” 

Bersambung…

Insya Allah, lanjut di episode 04...

Bagi yang belum tau episode satu dan dua. Silakan bisa klik teks warna merah berikut...

Senja di Matamu Episode Pertama

Senja di Matamu Episode Kedua


3 komentar:

  1. sepanjang cerita sendu ya bang. heee
    boleh bang berkunjung di diarypeciputih.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maksud dari Sepanjang Cerita Sendu apa, kang?

      Insya Allah, nanti saya berkunjung. :)

      Hapus
  2. Sebagai penikmat sastra sya cukup menikmati. Visualisasinya mantap, jadi sendunya dapat. Kekuatan tulisan akang terletak pada deskripsi latar yang kuat. Semuanya mengisyaratkan kerinduan, waktu, tempat, simbol2. Ditambah karakter tokoh yang diset secara alami, tidak diragukan lagi menjadikan cerita ini hidup.
    Hanya saja, cerita ber-genre seperti ini hampir mudah ditebak di setiap alurnya. Nah akan menjadi tantangan tersendiri bagi penulis untuk membangun alur cerita yang kokoh tanpa mengenyampingkan kealamian semua unsur yg terdapat di dalam cerita
    Untuk contoh saja, bagaimana karakter vira dan faidah, itu sudah tertebak sejak awal cerita. Oleh karena itu bagaimana mengantisipasi alur cerita yang tercermin dari karakter tersebut agar plot-nya unpredictable.

    Mohon maaf bila kurang berkenan.

    BalasHapus

Hamba Allah yang fakir akan ilmu, miskin akan amal, dan lancang mengemis Ridha-Nya dengan maksiyat dan dosa. #NovelisMuda

Pujangga Belantara

Info Lomba Menulis

Follow Me