Index Labels

Surat Cinta dari Dik Aleppo

Posted by Ucu Supriadi
Kak, mereka datang lagi. Kali ini dengan mobil-mobil besi yang banyak sekali. Hari-hari sebelumnya mereka menembaki teman-temanku, memperkosa teman muslimahku, memukuli orang-orang, menginjak kepala siapa saja yang mereka temui. Kakak di mana? Aku takut.

Kak, malam tadi, aku lihat ayahku mereka tembak. Mereka injak. Mereka seret ke tengah jalan. Darah segar ayahku muncrat seperti air mancur. Bersimbah darah menggenangi jalan. Kerudung ibuku mereka robek. Jilbab ibuku mereka nodai. Kesucian ibuku mereka injak-injak. Janin yang ada di Rahim ibuku mereka tembak. Badan ibuku terkoyak. Sampai aku tak bisa memastikan apakah jasad yang tak berbentuk itu adalah ibuku. Di mana kakak? Aku takut.

Kak, malam tadi aku juga melihat pertunjukkan kembang api. Tapi kembang api itu jatuh ke rumah adik. Lalu meledak hebat, menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya. Kutemukan juga adik kecilku berdarah dengan sebagian tubuh tertimbun reruntuhan rumah. Aku berlari ke sudut rumah. Menangis sekeras-kerasnya di sana. Di mana kakak? Aku takut.

Kak, mereka datang lagi. Apa aku harus diam, tak bersuara agar mereka tak menemukanku? Tapi aku takut mereka menembakku, seperti mereka menembak teman sebangkuku. Apa aku harus bersembunyi di kolong meja? Tapi aku takut mereka menginjak kepalaku jika menemukanku. Atau aku harus melempari mereka dengan batu jika mereka datang padaku?

Kak, mereka kejam. Rumah dan taman tempat aku bermain mereka hancurkan. Gedung sekolah tempat aku mengenal segalanya mereka luluh lantakan. Masjid-masjid tempat aku mengesakan Allah mereka bumi hanguskan. Kak, di mana keadilan yang mereka bilang dari PBB? Yang mereka bilang dari HAM? Yang mereka bilang dari demokrasi? Apakah keadilan buatku hanyalah omong kosong. Hanyalah bualan pengantar tidurku? Kakak di mana? Aku takut. Kak, apakah kakak masih punya mata. Punya otak. Punya telinga. Dan punya hati. Apakah kakak sudah tau nasib adik di sini? Apakah kakak peduli dengan kondisi adik saat ini? Ataukah kakak bersembunyi, menutupi mata dan telinga kakak sambil mengatakan bahwa aku ini bukan adikmu. Apakah begitu, kak? 

Kata ibu, bahwa sesama muslim itu bersaudara, kak. Haram darahnya bila tumpah. Haram bila kehormatannya diinjak-injak oleh kaum kafir. Dan, sesama muslim itu ibarat satu tubuh, kak. Bila anggota satu sakit, maka yang lainnya pun akan merasakan sakit. Apakah kakak lupa? Apakah Kakak di sana ikut merasakan sakit? Atau kakak di sana malah enak dengan segala kenikmatan dunia? Begitu asyik dengan segala kemaksiyatan yang kakak lakukan di sana? Benar begitu, kak? Sehingga hari ini kakak lupa dengan kondisi adik di sini. Kakak egois. Kakak jahat. Aku ini adikmu dari rahim Islam. Tolong aku, kak. Aku takut.

Kak, surat ini aku cukupkan sekian. Perlu kakak ketahui. Sampai hari ini, aku masih sendiri. Menangis di sudut reruntuhan rumah. Dari adik yang mencintai kakak, Dik. Aleppo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hamba Allah yang fakir akan ilmu, miskin akan amal, dan lancang mengemis Ridha-Nya dengan maksiyat dan dosa. #NovelisMuda

Pujangga Belantara

Info Lomba Menulis

Follow Me